KEBAHAGIAAN IDUL FITRI ITU DIPERUNTUKKAN BAGI SIAPA SAJA YANG BERTAMBAH KETAATANNYA

Seorang anak, sedang mengobrol dengan ayahnya ketika hari raya Idul Fitri berlangsung.

“Ayah, apakah hari raya Idul Fitri itu?” tanyanya dengan wajah polos dan lugunya.

Apakah Idul Fitri itu, setiap orang harus punya pakaian baru, sendal baru, dan segala sesuatu yang baru?” lanjutnya dengan masih menampakkan wajah polosnya khas anak-anak.

Menghadapi pertanyaan yang menyerbu dirinya, sang Ayah hanya menghela napas panjang. Seraya menyunggingkan senyuman manis di wajahnya. Ditatapnya dengan lekat, wajah anak lelaki semata wayangnya itu.

“Ketahuilah, Anakku. Banyak orang yang salah dalam mengartikan hari raya yang sesungguhnya,” jawab sang ayah dengan masih tetap tersenyum.

“Mengapa bisa begitu, Ayah?” Kini, anaknya semakin bingung.

“Begini, Nak. Kebanyakan orang menganggap Ied itu berdasarkan penampilan saja. Padahal, makna ied yang sesungguhnya lebih dari itu, Anakku” jelas sang Ayah.

“Ketahuilah, Anakku. Ibnu Rajab pernah berkata, ‘(Kebahagiaan) Ied, bukanlah untuk siapa saja yang memakai baju baru. Tapi (kebahagiaan) ied itu diperuntukkan bagi siapa saja yang bertambah ketaatannya.

(Kebahagiaan) Ied, bukanlah untuk siapa saja yang memperindah pakaian dan kendaraan nya, akan tetapi (kebahagiaan) ied itu bagi siapa saja yang diampuni dosa-dosanya.

Maka, siapa saja yang mendapatkan keutamaan ini maka baginya (kebahagiaan) pada hari ied, dan siapa saja yang tidak mendapatkannya maka dia tertolak dengan jauh (dari kebahagiaan pada hari ied).’ [1]

Anakku, Itulah makna Ied yang sesungguhnya,” ucap sang Ayah mengakhiri penjelasannya.

Sepenggal cerita di atas bila kita cermati lebih dalam akan berkorelasi erat dengan tugas pokok dan fungsi ASN terutama sebagai pelaksana pelayanan publik, (kebahagiaan) ied itu diperuntukkan bagi siapa saja yang bertambah ketaatannya. Bertambahnya ketaatan dimaksud seharusnya terjadi dikalangan aparatur birokrasi, taat dan patuh terhadap berbagai ketentuan perundang-undangan yang melandasi setiap tugas dan fungsinya tidak terkecuali bertambahnya ketaatan terhadap ketentuan hari dan jam kerja PNS, dalam hal ini sesuai  Keputusan Presiden RI Nomor 13 Tahun 2019  Tentang Cuti Bersama PNS tahun 2019 cuti bersama Idul Fitri 1440 H berakhir pada tanggal 7 Juni 2019 dan pada tanggal 10 Juni 2019 semua ASN wajib masuk kerja dan segala aktivitas/kegiatan kantor terutama yang bersangkutan langsung dengan pelayanan masyarakat harus sudah normal kembali, walaupun pada kenyataannya beberapa SKPD yang memberikan pelayanan publik masih tetap memberikan pelayanan meskipun libur lebaran.

Berkaitan dengan hal di atas, walaupun setiap ASN khususnya PNS telah melaksanakan absensi kehadiran hari ini (Senin 10 Juni 2019) melalui aplikasi SIAP, BKPSDM memandang perlu untuk melaksanakan pengecekan langsung (on the spot) kehadiran PNS di beberapa SKPD dan pada saat bersamaan Satuan Polisi Pamong Praja pun melaksanakan operasi Gerakan Disiplin Daerah, yang hasilnya antara lain untuk dinas kesehatan tingkat kehadiran mencapai 100 % , Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman mencapai 100 %, DLHK dari 47 orang PNS yang hadir sebanyak 46 Orang sedangkan 1 orang PNS sedang tugas belajar, Kelurahan Karawang Kulon kehadiran mencapai 100 % selanjutnya Dinakertrans dan Disdukcatpil tingkat kehadiran masing-masing mencapai 100 % dan 98 %, Kecamatan Telukjambe timur mencapai 100 % dan Kecamatan Telukjambe Barat mencapai 100 %. Di bawah ini merupakan tabel kehadiran PNS pada hari senin tanggal 10 Juni 2019 di seluruh SKPD .

Bagi PNS yang mangkir pada hari pertama kerja pasca libur lebaran, BKPSDM akan memproses penjatuhan hukuman disiplin beserta beberapa PNS indispliner lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Komantari dengan Facebook